Sunday, 18 December 2016

Teladan dalam Senyap : Belajar dari Kulonprogo



Kulonprogo bukanlah daerah yg jd sorotan media, Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta.
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, pun tak sepopuler Kang Emil, Bu Risma apalagi Ahok.

Walau tanpa sorot media, Hasto Wardoyo, tlh meletakkan spirit kemandirian sebh bangsa. Ia mengajak warganya keluar dr kemiskinan, dgn kekuatan sendiri. Hasto memberi teladan dlm senyapnya publikasi.

Ia memulai dgn gerakan "Bela & Beli Kulonprogo" Antara lain, dgn mengeluarkan kebijakan yg mewajibkan Pelajar & PNS di sana mengenakan seragam batik geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pd hari tertentu. Ternyata, dgn jumlah 80.000 pelajar & 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dr cuma 2 menjd 50-an. Seribuan perajin batik Kulonprogo yg biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bs bekerja di Kulonprogo. Uang ratusan miliar rupiah dr usaha kecil ini berputar di Kulonprogo. Puryanto, seorg pengusaha batik di desa Ngentarejo, mengaku omzetnya meningkat. Bahkan pernah hgg mencapai 500 persen.

Hasto, yg menjabat Bupati sejak 2011, jg berusaha menjamin pendapatan petani lokal, dgn mewajibkan setiap PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo, 10 kg /bln . Bahkan beras raskin yg dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.

Sang Bupati yg jg dokter spesialis kandungan ini jg membuat PDAM mengembangkan usaha, dgn memprodusi air kemasan merk AirKu ( Air Kulonprogo ). Selain menyumbangkan PAD, keberadaan air kemasan ini membangkitkan kebanggan warga setempat dgn mengkonsumsi air produk sendiri. AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Anto, staf PDAM setempat, menuturkan, kini jumlah permintaan lbh bsr dr produksi. Krn itu, volume produksi AirKu akan segera ditingkatkan.

Berbagai kebijakan lewat program Bela & Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulonprogo, dr 22,54 % pd 2013 menjadiO 16,74 % pd 2014 ( data Bappeda ).

Oh ya, jika Anda ke Kulonprogo, Anda tak akan menemukan papan iklan rokok. Pemerintah Kulonprogo memang menolak sponsor dr perusahaan rokok. Kebijakan ini tentu mengurangi pendapatan daerah. Namun, memimpin daerah bukan cuma soal menggenjot pendapatan, tapi menempatkan posisi moral yg memihak rakyat. Dlm hal ini, membela hak kesehatan rakyat.

Bupati yg lulusan UGM ini jg memberlakukan Universal Coverage dlm pelayanan kesehatan, dimana Pemkab Kulonprogo menanggung biaya kesehatan warganya Rp 5 juta /org .

Utk mengimbangi program Universal Coverage, RSUD Wates Kulonprogo memberlakukan layanan tanpa kelas. Artinya, ketika kelas 3 penuh, pasien miskin bs dirawat di kelas 2, kelas 1, bahkan VIP.

Sumber : Group WA

No comments:

Post a Comment